Senin, 24 Oktober 2011

DAMPAK PEMBANGUNAN BENDUNGAN

 
Manusia adalah mahluk biotik yang mana mereka sangat bergantung terhadap biotik dan abiotik yang ada disekitarnya. Sungai adalah kehidupan bagi mahluk yang ada di daratan, dimana air merupakan kebutuhan mutlak untuk kelansungan mahluk hidup.  Bagi mahluk hidup yang ada di bumi, Allah SWT telah menciptakan dunia dan isinya sesuai dengan koodratnya yang dibutuhkan bagi penghuninya.
Tetapi, manusia mengubah itu semua tanpa mempertimbangkan dengan matang apa dampak yang ditimbulkan terhadap keseimbangan bumi ini.
Alasan yang sangat logis mengapa manusia banyak mengubah aliran sungai menjadi sebua
h waduk ataupun d
anau karena di dalam suatu sungai terdapat energi yang sangat besar yang dibutuhkan manusia.
Pada tahun 1984 Nippon Koei Consulting Engineers telah menyelesaikan Hydro Potential Study di Indonesia dan hasilnya menunjukkan bahwa potensi tenaga air di Indonesia berjumlah 74.984 MW (Zuhal 1995). Selanjutnya menurut penelitian Soedibyo (1996), potensi tenaga air di Indonesia tersebut merupakan ranking ke-9 dari potensi tenaga air di dunia. Ke-10 negara dengan ranking urutan terbesar dapat dilihat pada Tabel  dibawah ini. Dengan memperhatikan potensi tenaga air di Indonesia sebesar 74.976 MW, sedangkan total daya terpasang hanya sebesar 3.972,41 MW, kiranya jelas bahwa potensi tenaga air di Indonesia masih sangat besar yang dapat dikembangkan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Tabel - 5: Ranking Potensi Tenaga Air Negara-Negara di Dunia

NO
Negara

Potensi Tenaga Air (MW)
1
Uni Sovyet

1.100.000
2
Cina

676.000
3
Amerika

648.000
4
Canada

218.000
5
Jepang

130.000
6
Norwegia

105.000
7
Swedia

85.000
8
Perancis

76.000
9
Indonesia

74.976
10
Italia

60.000

(sumber Sudibyo- Perkembangan Pembangunan PLTA di Indonesia,)

Itulah sebabnya, Indonesia memiliki potensi untuk kemakmuran masyarakatnya. indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang. Sebagai Negara yang sedang berkembang pembangunan dalam bidang perekonomian  merupakan hal yang nomor satu. Negara Indonesia dikenal sebagai Negara agraris sehingga pasokan air sangat di butuhkan guna memenuhi kebuhan irigasi dan juga untuk memenuhi pasokan listrik guna meningkatkan industry- industry yang sedang tumbuh di indonesia. 
Oleh karena itu, salah satu infrastuktur yang di bangun pemerintah adalah bendungan guna mengatasi masalah kekeringan di musim kemarau dan juga meningkatkan kebutuhan listrik nasional dan lain sebagainya demi kemakmuran rakyatnya.
Bendungan merupakan salah satu infrastuktur yang dibangun pemerintah melalui dinas Pekerjaan Umum (PU) yang bertujuan untuk mendukung kesejahteran masyarakat dibidang irigasi. Bendungan adalah sebuah rintangan yang dibangun di sungai guna menghambat aliran air sungai.  Adapun fungsi- fungsi bendungan antara lain:
·         Untuk memasok air minum
·         Menghasilkan tenga listrik
·         Meningkatkan pasokan air irigasi
·         Memberikan kesempatan rekreasi dan
·         meningkatkan aspek- aspek lingkungan tertentu

Bendungan merupakan salah satu ekosistem  buatan manusia, yang mana dalam pembangunanya langsung melibatkan lingkungan  yang berada di sekitarnya. Sehingga apabila dalam pembangunan ini tidak diperhitungkan secara matang, maka akan berdampak  kepada ekositem  satwa dan tumbuhan dan sosial  yang berada di hulu maupun di hilir.
Menurut Dr Agus Maryono, ahli hidrologi dari UGM, merinci berbagai dampak  yang terjadi pada saat pembangunan bendungan besar berimbas kepada:   
·         kerusakan hutan, lansekap dan tanah
·         Punahnya beberapa ekosistem flora dan fauna yang hidup
·         masalah sosial ekonomi masyarakat yang terkena dampak akibat penggenangan bendungan besar ini
·         perubahan kualitas air bendungan akibat pembusukan hutan dan vegetasi yang tergenang
·         perubahan transportasi sedimen sepanjang alur sungai
·         perubahan karakteristik banjir yang menyebabkan perubahan habitat flora dan fauna sungai
·         interupsi alur sungai yang dapat menyebabkan terjadinya kepunahan berbagai jenis ikan-ikan sungai yang bermigrasi

."Pada era Orde Baru, itu semua tidak mendapatkan perhatian semestinya, tak ada transparansi dan kontrol publik terhadap sisi AMDAL pembangunan bendungan," ujarnya. Pemerintah hanya menghitung dari sisi keuntungannya saja, tidak memikirkan dampak apa yang ditimbulkan bagi lingkungan maupun masyarakat yang berada disekitar daerah aliran sungai (DAS).
Mungkin masyarakat yang berada jauh dari DAS tidak mengalami dampak yang berarti tapi, bagaimana mereka yang tinggal disekitar aliran sungai itu, yang mana kehidupan mereka bergantung kepada sungai. Pastilah menjadi pertimbangan yang wajib bagi pemerintah maupun perencana terhadap lingkungan dan manusia yang berada disekitarnya demi kesejahteran bersama dalam membangun bendungan.

1.     DAMPAK TERHADAP SOSIAL
Sebelum dibangunnya bendungan kehidupan masyarakat yang berada di sekitar aliran sungai sangat tercukupi dan bahkan makmur, dimana alam masih bekerja sebagiamana mestinya. Merekapun masih memiliki pengahasilan dari sungai yang mereka tempati karena ikan masih mudah untuk mereka dapati dan lahan pertainian cukup untuk menompang kehidupannya karena pasokan air sebagai nutrisi utama bagi tanaman masih terjaga kwalitasnya dan tercukupi untuk  ladang mereka.
Bendungan dibangun memang memiliki dampak positip bagi manusia. Tetapi apabila dalam pembanguna suatu bendungan tidak dipertimbangkan secara matang maka banyak masalah yang akan ditimbulkannya bagi manusia itu sendiri, dan kesejahteran bagi masyarakat pun tidak dapat terwujuti. Adapun dampak- dampak yang ditimbulkan dalam pembangunan bendungan terhadap sosial antara lain:

1.  Transmigrasi.
Dunia bendungan yang tanpa rasa telah menjadikan air menjadi api bagi rakyat setempat, mereka semula yang telah tinggal berketurunan dan beranak pinak di suatu pemukiman tersebut harus terpasaksa dipindakan. Karena desa yang mereka tempati dulu harus ditenggelamkan untuk areal sekitar untuk waduk buatan maupun waduk alamiah( danau).
 Tak jarang dalam proses pembebasan lahan terpaksa harus ikut campur tangan aparat militer, hal tersebut membuktikan bahwa pembangunan bendungan masyarakat akan realitas dan praktek pelanggaran HAM dan kejahatan akan nilai-nilai kemanusiaan.
Bendungan Volta di Ghana misalnya, telah memindahkan secara massal lebih dari 78.000 manusia yang berasal dari 700 kota dan desa. Danau Kainji di Nigeria memindahkan 42.000 orang, bendungan tinggi Aswan 120.000 orang, bendungan Kariba 50.000 orang, bendungan keban di Turki 30.000 orang, bendungan Ubolratana di Tahiland 30.000 orang, sementara proyek pamong di Vietnam memindahkan secara massal penduduk setempat sebanyak 450.000 orang3.
Jika di perkirakan akan ada jutaan manusia di belahan bumi ini yang terdiri dari bangsa-bangsa pribumi yang akan dipindahkan secara massal melalui tindakan pemaksaan, dimana mereka harus meninggalakan tanah leluhur dan bertarung dalam sebuah kehidupan baru yang tidak pasti.




Berikut perkiraan korban dari suku-suku bangsa pribumi yang akan terkena dampak pembangunan bendungan besar di dunia.

NO
NEGARA
JUMLAH MASYARAKAT
JUMLAH BENDUNGAN
KETRANGAN
1
Cina
1.400.000 jiwa
3 Bendungan Besar

2
Brazil
50.000 jiwa dari 34 suku bangsa pribumi
8 Proyek Listrik Tenaga air
Akan menggelamkan 442.000 ha tanah pemukiman dan pertanian masyarakat
3
Panama
62.000 Jiwa
Multi Bendungan Teribachanginola

4
Fhiliphina
100.000 jiwa
40 Bendungan besar
Akan direncanakan dalam waktu 20 tahun, dan akan berpengaruh pada 1,5 juta jiwa rumah-rumah masyarakat di sekita
5
Canada
10.000 jiwa
Air irigasi untukladang-ladang pertanian

Tenaga Listrik untuk industri di bahagian selatan Alberta
Program yang akan mengalihkan aliran air dari tiga jaringan sungai besar .

Mengancam Suku Dane dari wilayah barat-laut.

Salah satu contoh kongkrit misalnnya, dapat dilihat di Tahailand, bagaimana praktek penindasan dibalik kamusfalse dari proyek-proyek bendungan yang terjadi. Lebih dari 3000 orang digusur untuk proyek bendungan pembangkit listrik tenaga air pertama Bhumibol Tahiland, yang melibatkan lembaga keuangan Internasional (World Bank) pada tahun 1964. Pemerintah menjanjikan kepada masyarakat yang akan di gusur akan mendapatkan ganti rugi tanah pertanian yang layak dan rumah yang dilengkapi oleh fasilitas air, listrik serta jalan. Namun semua hanya janji palsu .
Menurut kepala Divisi Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Nurhidayati, menyebutkan, masyarakat yang berada di daerah genangan (bendungan) ternyata tidak mendapatkan keuntungan dari proyek bendungan, terusir dari tempat kelahirannya serta kehilangan nilai-nilai adat budaya yang selama ini dipegang teguh dan dijaga kelestariannya oleh masyarakat setempat.
 “pembangunan bendungan di mana pun, termasuk di Indonesia, selalu saja menimbulkan masalah (Nurhidayati). Dapat dilihat pada table dibawah ini betapa ketidak berdayaanya masyarakat yang berada di indonesia dalam pembangun bendungan di Kotopanjang di provinsi Riau- Sumatra Barat

No
Nama Desa
Jumlah KK
Wilayah Provinsi
Lokasi Pemindahan
1
Muaro Mahat
447
Kab. XIII koto Kampar dan Kab. Kampar Riau
PIR Trans Bangkinang Blok X / G
2
Pulau Gadang
592

Kotoi Ranah Sei Silam
3
Tanjung Alai
313


Ranah Koto Talago
4
Batu Bersurat
a.         batu bersurat Pasar
b.        Batu Bersurat Seberang

700

557

Selatan Batu Bersurat Ranah Sungkai
5
Pongkai
259

200

PIR Trans Sungai Pagar
Selatan Siberuang SP II
6
Koto Tuo
599

Selatan Muara Takus SP II
7
Muara Takus
244

Selatan Siberuang SP I
8
Gunung Bungsu
244

Selatan Siberuang SP I
9
Desa Tanjung Balit
421

Kec Pangkalan Koto Baru Kab. 50 Kota Agam
RimboDatar SPI
10
Desa Tanjung Pauh
312


Rimbo Datar SP II

TOTAL
4886



3.1 Data pemindahan warga pembangunan bendungan di kotopanjang Sumbar- Riau




2.  Meningkatnya Pengaguran Dan Kemiskinan.
Masyarakat yang berada disekitar bendungan semulanya memiliki pekerjaan sebagai petani dan nelayan. Pekerjaan tersebut telah dapat mencukupi kehidupan mereka. Tapi setelah pembanguna bendungan selesai mereka yang telah menekuni pekerjaan tersebut terpaksa harus kehilangan karena lahan yang mereka telah tempati akan di tenggelamkan.
Dalam banyak kasus yang terjadi di beberapa Negara, imbas  dari transmigrasi yang dilakukan pemerintah adalah kehilangaan pekerjaan dan meraka harus menghadapi kenyataan bahwa kerasnya hidup karena ketidak pastian atas jaminan kehidupan seperti masadepan ekonomi, kebutuhan untuk terpenuhinnya kebutuhan dasar, bahkan sering kali melahirkan konflik-konflik baru secara horizontal.
Salah satu warga yang terkena dampak dalam pembanguna bendungan di Laos benama Duong Dee, kepala Desa Som Long. Keluarganya telah hidup di sana selama lebih dari tiga generasi. Ia menuturkan bendungan yang dibangun di bagian hulu sungai telah menghancurkan mata pencaharian tradisional mereka.
Sebelum bendungan itu dibangun, ada banyak batu-batuan yang merupakan tempat perlindungan dan perkembangbiakkan ikan. Ketika bendungan mulai melepaskan air, air itu menutupi daerah-daerah sini dengan berbagai endapan. Sekarang kami kesulitan memancing dan kehidupan warga juga tambah susah.“

3.   Sarang Penyakit.
Sementara waduk sangat membantu manusia, mereka juga dapat berbahaya juga. Salah satu efek negatif adalah bahwa waduk dapat menjadi tempat berkembang biak untuk vektor penyakit. Hal ini berlaku terutama di daerah tropis dimana nyamuk (yang vektor untuk malaria ) dan keong (yang vektor untuk Schistosomiasis ) dapat mengambil keuntungan dari air yang mengalir lambat.

4.   Ancaman Keselamatan.
Volume air yang ditampung oleh bendungan dapat mengacam keselamatan warga yang tinggal di hilir sungai. Karena tekanan air yang ditampung oleh bendungan dapat melemahkan konstruksi  bendungan terlebih dalam pembanguna bendungan ini berada di daerah yang terdapat aktivitas rawan gempa.
Jika gempa bumi itu nantinya meruntuhkan bendungan yang bersangkutan dan melepaskan volume air besar yang tersimpan dalam waduk, dapat menelan ribuan masyarakat yang tinggal di daerah hilir. Seperti yang terjadi beberapa bulan lalu runtuhnya situ gintung. waduk situ gintung merupakan salah satu waduk yang dibangun pada 1932 oleh Belanda sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir wilayah selatan jakarta.
Mengingat kontruksi situ yang telah tua dimana kontruksi situ hanya terbuat dari endapan tanah membuat waduk tak mampu lagi menerima volume air dalam jumlah yang besar dan akibat ketidakmampuan tersebut waduk situ gintung akhirnya memuntahkan bebannya ke pemukiman warga yang tinggal di hilirnya dan   telah menelan puluhan korban jiwa dan mengahancurkan ratusan ruma penduduk
.
5.   Ancaman Banjir di Pemukiman Warga.
Warga yang tinggal jauh dari bibir sungai mungkin tidak akan ditranmigrasikan ke daerah lain. Sehingga mereka dapat tinggal di bibir waduk. Tetapi masalah selanjutnya yang warga hadapi adalah banjir yang mengenangi pemukiman warga ketika hujan. Banjir tidak hanya mengacam warga yang tinggal di sekitar bendungan tetapi juga mengancam warga yang bermukim di hilir sungai karena sewaktu hari hujan volume air yang berada di bendungan meningkat sehingga harus dibuka untuk menstabikan volume air.
Di sebuah ladang sayur di tepi sungai, petani lokal, Ng, menggambarkan apa yang terjadi pada saat pintu air dibuka. “Begitu naik, air langsung merendam pinggir sungai. Tidak hanya merendam daerah ini tapi juga desa saya. Kami tidak menerima peringatan apapun, hanya melihat air makin naik. Bulan lalu juga, air naik lagi sehingga tanaman kami rusak. Sekarang kami harus menanamnya lagi.”
Akibat dari buka tutupnya pintu air di bendungan ini berimbas kepada lahan pertanian milik warga. Karena membuat volume air yang berada di hilir sungai meningkat dan mengenagi sawah- sawah dan sayur-sayuran warga sehingga warga mengalami gagal panen karena berhektar –hektar sawah mereka membusuk akibat terendam air.


2.     DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN DAN EKOSISTEM
 Pembangunan bendungan selain menuai permasalahan sosial juga berimbas kepada ekologi yang terdapat di sungai. Dimana sungai merupakan ekosistem yang memiliki keanekaragaman hayati yang beragam dari pada di laut. Sungai merupakan lingkungan yang memiliki kaya akan zat- zat hara dan  nutrient yang dibutuhkan mahluk hidup, dimana tempat- tempat semacam ini merupakan tempat yang subur bagI produsen primer yaitu tumbuhan dan disinilah terdapat beragam jenis ikan dan hewan air berkembang baik, seperti serangga, ikan dan hewan mamalia lainnya.
Add caption
Pembangunan bendungan besar kerap menuai masalah terutama terhadap keseimbangan alam. Kalau saja kita menyaksikan lebih dari 10 juta penduduk dunia yang terdiri dari bangsa-bangsa pribumi yang akan dan telah kehilangan tempat tinggalnnya akibat pembangunan bendungan besar, maka saat yang sama pula ada jutaan hektar wilayah masyarakat beserta ekosistim sumberdaya alamnya yang harus musnah disebabkan oleh pembangunan bendunganbesar ini.
Bendungan-bendungan besar seperti ini, sangat menimbulkan pengrusakan lingkungan yang sangat buruk, diantarannya: Menenggelamkan hutan yang sangat luas, merubah struktur alamiah sungai dan pengerusakan biota sungai, Pembukaan wilayah-wilayah isolasi untuk pengerukan sumber daya alam dan Hilangnnya lahan basah pertanian yang luas.
 Banyak bukti yang bisa disaksikan dari perjalanan sejarah pembangunan yang penuh dengan praktek ekstraktif ini, misalnnya Bendungan Tucurui dan Balbina bersama-sama menenggelamkan 6.400 kilometer persegi hutan hujan tropis di Amazon Brazil, Bendungan Akosombo menenggelamkan yang luas melebihi bendungan manapun diseluruh dunia, yakni 8.500 kilometer persegi atau 4 persen dari luas Ghana.
Oleh karena itu, deplesi ekologis yang disebabkan pembangunan bendungan besar telah memperlihatkan degradasi yang sangat signifikan dari kualitas dan masa depan lingkungan hidup. Seperti yang telah di kategorikan oleh Aspelin dan revisi kategori yang dituliskan oleh GJ.Aditjondro,“Efek bendungan besar ini tidak hanya akan mempengaruhi degradasi wilayah sekitar bendungan akan tetapi juga akan mempengaruhi wilayah-wilayah hulu dan hilir yang masih memperlihatkan relasi aliran sumberdaya”.
Dari penjelasan diatas, pembangunan bendungan besar dapat merubahan keseimbangan lingkungan yang sangat kompleks. Adapun dampak- dampak yang di timbulkan dari pembangunan bendungan antara lain:

1.      Menurunnya kualitas air
Tanpa kita sadari pembangunan bendungan berdampak langsung kepada penurunan kualitas air sungai. Akibat dari itu dapat mengacam populasi ikan bermanfaat dan menimbulkan masalah terhadap ternak dan manusia, Karena mengubah sistem dari sungai ke danau juga menciptakan habitat yang lebih bagi nyamuk dan siput (Lanza, 1971).
Selain itu, perubahan kualitas air bendungan juga diakibat oleh pembusukan hutan dan vegetasi yang tergenang. Tindakan pemotongan dan pembakaran kawasan hutan di kawasan waduk  tidak dapat mencegah masalah kualitas air yang signifikan. "Membakar biomassa menambahkan polusi udara, termasuk karbon dioksida, ozon dan gas rumah kaca lainnya, dan zat beracun seperti merkuri," katanya.
Setelah terbakar, nutrisi dari abu akan memicu dan mendukung pertumbuhan bakteri tiba-tiba kelebihan dan ganggang dalam air sebagai reservoir mengisi, memicu riam masalah kualitas air, termasuk mengurangi oksigen terlarut sangat, ikan membunuh, pembentukan metabolit beracun oleh cyanobacteria dan pelepasan gas beracun dan logam seperti hidrogen sulfida dan merkuri dari sedimen waduk.
Meninggalkan biomassa di belakang juga akan bermasalah, kata Lanza, karena busuk vegetasi akan meningkatkan emisi gas rumah kaca dari waduk, menggunakan oksigen yang tersedia dalam air, mematikan ikan dan menghasilkan air yang tidak cocok untuk di konsumsi dan irigasi.

2.     Menghambat aliran nutrient
Berubahnya hidrologi sungai ke danau membuat aliran air terhambat di waduk. Sehingga nutrient yang dibutuhkan ikan di sepanjang aliran sungai menjadi terhambat dan menumpuk di waduk. Akibat  dari terhalangnya nutrisi di waduk membuat populasi ikan- ikan yang berada di hilir menjadi lapar akan gizi.

3.     Bendungan menghambat ikan untuk melakukan migrasi (bertelur) dan Punahnya spesies ikan local
Menurut para peneliti dari Universitas Umea, swedia, telah menemukan perubahan habitat sepanjang pinggiran sungai tempat pembangunan bendungan. Dimana salah satu dampak dari pembangunan bendungan ini adalah terjadinya penurunan beberapa jenis ikan. Bendungan bisa menghalangi jenis ikan- ikan tertentu yang melintas bebas, atau membuat mereka bisa lewat tetapi tidak mampu kembali lagi. Akhirnya ada beberapa jenis ikan yang terancam punah dan sudah punah. Diantara jenis- jenis ikan salmon –semacam badar – yang terbiasa mengikuti aliran sungai.

4.     Hilangnya hutan karena penggenangan
Bendungan juga menyebabkan penggenangan air terhadap ribuan hektar hutan. Perencanaan bendungan seringkali mengabaikan nilai ekologis yang sulit dinyatakan dari pemeliharaan tanah, pengisian kembali air tanah, stabilisasi iklim, pemurnian air dan udara serta perlindungan terhadap kehidupan margasatwa di dalamnya.

5.     Penurunan kesuburan di bagian hilir
Pembangunan bendungan nantinya akan mencegah endapan air sungai dibawa ke hilir dan laut. Padahal endapan tersebut mengandung bahan-bahan bergizi tinggi untuk tanah. Menurut hasil penelitian dari Universitas Umea, di Swedia. Yang lebih mengherankan adalah bahwa bendungan juga mempengaruhi tumbuh- tumbuhan yang berada di sepanjang aliran sungai di bagian hilir. Setidak- tidaknya jenis tanaman yang berada dikiri dan kanan sungai. Selama 70 tahun pembanguna bendungan di swedia, jenis tumbuhan yang punah mencapai 15 persen.

6.     Hilangnya sedimen dan terjadinya erosi di daerah pantai
Masalah ekologi selanjutnya yang disebabkan oleh hilangnya kadar sedimen dari air di hilir adalah erosi tanah di daerah pantai atau delta. Karena semua hasil pada beban sedimen bendungan hilir berkurang, sungai dibendung dikatakan "lapar" untuk sedimen. Karena laju deposisi sedimen sangat berkurang membuat pasokan deposit ( zat- zat nuttrien) untuk sungai berkurang tetapi laju erosi tetap hampir konstan, aliran air menggerogoti di tepi sungai dan dasar sungai, mengancam ekosistem pantai, memperdalam sungai, dan penyempitan sungai. mengurangi kadar air, homogenisasi aliran sungai dan ekosistem sehingga mengurangi variabilitas, mengurangi dukungan untuk satwa liar, dan mengurangi jumlah sedimen mencapai dataran pantai dan delta.

7.     Hilangnya lahan pertanian
Jika bendungan beroperasi, maka air waduknya mulai naik menggenangi areal-areal tanah yang luas. Dalam banyak kasus, daerah yang tergenang mengandung ribuan hektar tanah pertanian yang baik.

8.     Berkembangbiaknya bibit penyakit
Bendungan besar dapat menimbulkan kondisi-kondisi yang mendatangkan penyakit-penyakit dimana aliran yang terhambat sangat baik untuk berkembangnya nyamuk dan keong. "Mengubah sistem sungai ke danau juga menciptakan habitat lebih untuk siput dan nyamuk yang membawa malaria, demam berdarah dan schistosomiasis, yang menyebabkan peningkatan jumlah kasus penyakit ini." (Lanza,1971)

9.     Mempengaruhi suhu air
Di daerah tropis pengaruh suhu tidaklah berarti dalam pembangunan bendungan akan tetapi Pembangunan bendungan di Negara yang memiliki empat  musim, berpengaruh langsung terhadap suhu air. Dimana Air waduk biasanya lebih hangat di musim dingin dan lebih dingin di musim panas. Tetapi lain halnya setelah pembangunan air di sungai di sungai menjadi lebih dingin di musim hujan dan sebaliknya.
 Hal ini berdampak pada tanaman dan hewan yang hidup disepanjang aliran sungai ini,baik yang berada waduk  maupun di sungai, sehingga sering menciptakan lingkungan yang tidak alami bagi spesies lokal. Penurunan substansial dalam keberhasilan penangkapan ikan salmon Atlantik dan Sewin di Sungai Towy telah membuktikan berhubungan dengan suhu air berkurang disebabkan oleh debit air bawah dari Llyn Brianne.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar